• Rabu 23 Juni 2021

FPII Kecam Penggunaan Peluru Tajam oleh POLRI yang Mengenai Seorang Wartawan

  • Maklumat Nasional
  • Jumat, 24 Mei 2019 - 2:13 AM
  • Hukum, Nasional,
  • dibaca : 535 pembaca

Aksi unjuk rasa penolakan hasil Pilpres 2019. (foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Jakarta, Maklumat Nasional – Seorang wartawan kabartoday.co.id bernama Hasan yang meliput aksi unjuk rasa menolak hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di depan Kantor Bawaslu menjadi sasaran peluru nyasar saat melakukan liputannya sekitar pukul 02.00 WIB di Jalan K.H. Agus Salim, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019).

Hasan yang sehari-hari meliput di Wilayah DKI Jakarta mengalami cedera terkena peluru nyasar yang diduga dilakukan oleh team Reserse Mobil (Resmob).

Ketua Presidium Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Kasihhati mengomentari kejadian tersebut.

“Hal ini menjadi catatan yang sangat penting bagi kita. Baru saja kemarin Kapolri menyatakan bahwa aparat TNI/POLRI tidak dilengkapi peluru tajam, kenapa rekan wartawan bisa kena peluru tajam yang nyasar? Siapa yang menembakkan peluru tersebut?,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa info yang didapat terkait musibah yang menimpah Hasan, setelah membaca media online di mana Hasan bertugas dan mendapat laporan dari anggota FPII yang berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) tempat hasan dirawat.

Hasan yang sempat dirawat di lantai 2 ruang Pavilliun Kartika Chandra RSPAD, sekarang sudah dibawa oleh rekan-rekan wartawan ke Posko Wartawan yang berada di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat.

“Ada 6 jahitan dengan kedalaman sekitar kurang lebih 5 centimeter. Alhamdulillah keadaan Hasan sampai saat ini masih bisa berkomunikasi dengan saya,” ujar Sekretaris Nasional FPII Wesly H Sihombing kepada teman media usai menelpon Hasan.

Menurut keterangan Hasan yang didapat Wesly, pada saat itu posisi massa dikepung dari dua arah.

Hasan juga membenarkan bahwa yang melakukan penembakan adalah dari satuan team Resmob dan peluru yang digunakan adalah peluru tajam, melihat kedalaman dari jahitan dan bila peluru karet hanya akan mengakibatkan memar-memar.

“Kita serahkan proses selanjutnya kepada pimpinan media di mana hasan bekerja. FPII akan terus mengawal dan mengkritisi tindakan-tindakan kriminalisasi maupun diskriminasi terhadap wartawan yang sedang melakukan kegiatan jurnalistiknya,” pungkas Wesly.

Melihat kejadiaan yang dialami Hasan dan rekan-rekan media lainnya, FPII menyatakan: Mengecam tindakan kekerasan, baik yang dilakukan oleh pengunjuk rasa maupun aparat keamanan dalam aksi unjuk rasa penolakan hasil Pilpres 2019; Meminta kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian untuk mengusut asal muasal peluru tajam dan pelaku penembakan; Meminta kepada Kapolri Tito Karnavian untuk memberikan sanksi tegas kepada oknum-oknum yang melakukan tindakan kekerasan, baik kepada teman-teman wartawan yang meliput aksi unjuk rasa penolakan hasil Pilpres 2019 pada tanggal 22 mei dan tanggal 23 mei dini hari maupun kepada masyarakat; Mengimbau kepada teman-teman wartawan untuk tetap menjaga keselamatan dan menjaga jarak dengan area aksi yang menimbulkan chaos. (BI)

« Sebelumnya Ketua Setwil FPII Provinsi NTB Kecam Intimidasi Terhadap Wartawan

Selanjutnya » APTIKNAS Dorong Kesetaraan Pemanfaatan Teknologi Melalui Industri 4.0

Berita Terkait

Komentar Kamu

Entertaiment

Kalender