• Minggu 01 Agustus 2021

NTT Siap Jadi Sentra Garam Nasional

  • Maklumat Nasional
  • Minggu, 19 Maret 2017 - 1:35 PM
  • Ekonomi,
  • dibaca : 514 pembaca

Produksi garam di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kupang, Maklumat Nasional – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya menyatakan daerahnya siap menjadi sentra produksi garam untuk memenuhi kebutuhan nasional yang selama ini masih didatangkan dari luar (impor).

“Secara potensi, produksi garam kita sangat besar bahkan dua kali produksi garam di Madura, kalau di Madura 60 ton per hektare, di sini 120 ton per hektare,” katanya di Kupang, Jumat (17/3).

Gubernur selama dua periode itu mengatakan bahwa saat ini Perusahaan Negara (PN) Garam tengah menggarap 400 hektare di Teluk Kupang dan sudah menghasilkan, per hektare dapat mencapai 120 ton.

“Hasil produksi garam tersebut juga berkualitas tinggi karena didukung dengan kondisi laut yang biru dan panasnya panjang,” ujar Frans.

Dia mengatakan bahwa sebelumnya telah melakukan rapat khusus dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan untuk membicarakan khusus tentang potensi garam di NTT.

Saat ini, katanya, Indonesia masih mengimpor garam dari luar dengan besaran mencapai 6 juta ton per tahun.

“Pemerintah ingin agar angka impor bisa turun signifikan dengan mengandalkan dari dalam negeri dan karena itu lahan yang paling cocok di Nusa Tenggara Timur,” tandasnya.

Pemerintah membutuhkan sekitar 20 ribu hektare untuk mengurangi secara signifikan impor garam dari luar ke Indonesia.

Gubernur Frans menjelaskan, potensi garam yang dimiliki yakni di Kabupaten Malaka sekitar 30 ribu hektare, di Teluk Kupang 8 ribu hektare, di Kabupaten Rote seribu hektare, di Kabupaten Ende 2 ribu hektare, di Kecamatan Reo 5 ribu hektare, dan di Kabupaten Nagekeo sekitar seribu hektare.

Dia menyebutkan, khusus untuk produksi garam industri di Kabupaten Nagekeo, pemerintah telah bersepakat agar PN garam bisa mengambil alih.

Hal itu dikarenakan produksi garam yang bekerja sama dengan pihak Australia itu sudah tidak berjalan selama 11 tahun sehingga harus diambil alih.

“Saya tidak yakin kalau kita kasih Australia yang bikin karena sudah 11 tahun tidak jalan. Karena kalau dia bikin di sini, ekpor dari negaranya ke Indonesia menjadi terhambat,” ungkapnya.

Frans menambahkan, pemerintahannya optimistis potensi garam setempat bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam mendukung swasembada garam.

“Kalau butuh 20 ribu hektare maka NTT sangat memungkinkan, yang penting ada kemauan kita untuk mulai membangun untuk garam,” tegasnya. (ais)

« Sebelumnya BI: Utang Luar Negeri Naik 3,4 Persen

Selanjutnya » Masyarakat Minta Perbaikan Jalan di Lampung Tengah

Komentar Kamu

Entertaiment

Kalender